Cara Niat Puasa Ramadhan Yang Benar Sesuai Contoh Nabi

Assalamu'alaikum sobat KangSodik.Com, salah satu diantara syarat dan rukun ibadah puasa atau shaum ialah berniat. Niat ini diharuskan ada ketika akan melakukan amal ibadah yang diyariatkan, namun berniat cukuplah kita lintaskan dalam hati saja, sebab demikianlah yang Nabi contohkan. Adapun untuk berniat ibadah puasa yang wajib khusus di bulan Ramadhan mesti ada dan dilakukan pada waktu malamnya sebelum memasuki waktu subuh (Fajar).

Niat Puasa Di Bulan Ramadhan Yang Benar Sesuai Tuntunan Nabi

Pada asalnya ibadah itu dilarang kecuali ada dalil Qur'an dan Hadist Shohih yang memerintahkannya. Oleh karena itulah kita sebagai Umat Islam harus berhati-hati dalam melakukan suatu amalan yang dinisbatkan ke dalam agama Islam. Karena tidak semua amalan yang kita jumpai dimasyarakat itu adalah amalan yang benar sesuai tuntunan Nabi kita Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam, namun kebanyakan sudah tercemari oleh kebiasaan dan tradisi-tradisi budaya adat yang dicangkok dari agama lain.

Termasuk juga masalah niat ketika hendak akan melakukan ibadah puasa (shaum) seyogyanyalah kita kritis dan banyak belajar serta bertanya kepada Ustadz yang lebih ahli dalam perkara hukum syariat Islam. Pasalnya, dalam beragama ini yang kita ikuti Nabi dan semuanya itu telah dijelaskan secara rinci dalam Qur'an atau dalam Hadits sebagai kitab rujukan pelengkap dan penjelas karena memang rinciannya biasanya dimuat dalam hadits Nabi. Adapun kitab hadits yang direkomendasikan yakni kitab Hadits Shohih Bukhori dan Shohih Muslim.

Dan pada kesempatan kali ini saya akan mencoba mengupas sedikit tentang bagaimana Cara Niat Puasa Ramadhan Yang Benar Sesuai Contoh Nabi berdasarkan hadits yang shohih, Insya Allah dapat Anda simak serta pelajari penjabaran lengkapnya dibawah ini.

Hadits dengan no.656 yang dikutip dati kitab seorang Ulama Ibnu Hajar dalam kitabnya Bulughul Maram, beliau membawakan sebuah hadits sebagai berikut:

Dari shohibiah Hafshoh (Ummul Mukminin) bahwasanya Nabi Rosulullah shallallahu'alaihiwasallam pernah berkata, ““Barangsiapa yang tidak berniat pada malam hari sebelum fajar terbit, maka puasanya tidak sah.”

Hadits tersebut dimuat dalam kitab-kitab hadits para Imam ahli hadits yang diantaranya yakni Ibnu Majah, An-Nasai, Tirmidzi, dan Abu Daud. Tirmidzi dan An-Nasai berpendapat bahwasanya hadits diatas hukumnya mauquf, artinya perkataan tersebut hanyalah sampai kepada salah satu sahabat. "Ibnu Hibban" dan "Ibnu Khuzaimah" menshahihkan kalimat hadits tersebut bila marfu’ yakni sampai kepada Rosulullah shallallahu'alaihiwa sallam. Sedangkan dalam riwayatnnya "Ad Daruquthni" dinyatakan, “Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat ketika malam hari.”

Beberapa poin faedah yang dapat dipetik dalam hadits Nabi diatas:

1). Hadits itu mengisyaratkan bahwasanya puasa atau shaum harus disertai niat sebelum mengerjakannya sebagaimana amalan-amalan ibadah wajib yang lainnya. Senada apa yang dikatakan "Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah" Rahimahullah dalam sebuah kitabnya yang mengandung maksud, “Para A'lim ulama telah bersepakat (ijma’) bahwasanya amal ibadah yang ditujukan langsung kepada zat dari ibadah tersebut semisal shalat, shaum atau puasa, dan ibadah haji, maka wajib harus dengan adanya niat.” Untuk keterangan lebih jelas beserta bahasa arabnya disarankan untuk merujuk dan membuka kitab sumber milik beliau yakni Majmu’ Al-Fatawa, 18: 257.

2). Letak lafadz niatnya itu yang rojih cukup di dalam bisikan hati kita. Jadi intinya jika sudah terbetik di dalam hati siapapun kaum muslimin untuk melakukan ibadah puasa (shaum) pada esok hari siangnya, maka dirinya telah dikatakan sudah sah berniat walau tidak diucapkan secara lisan.

3). Bagi yang tidak mensengajakan diri berniat untuk puasa pada waktu malam harinya sesudah maghrib atau sebelum azan subuh ketika mau melaksanakan ibadah puasa yang hukumnya wajib seperti dibulan ramadan (Romadhon), maka puasanya enggak sah secara syar'i. Sedangkan puasa yang hukumnya sunnah mempunyai hukum yang berbeda dalam perkara niat sesuai hadits yang memuatnya.

3). Niat ibadah puasa itu wajib semisal Ramadhan haruslah dikerjakan di waktu malam antara sesudah maghrib atau sebelum subuh. Namun menurut pendapat "Ash Shon'ani" jika mendapati pada separuhnya malam lalu berniat itu sudah cukup dan sah, soal an ini harap cek lagi langsung di kitabnya yang berjudul "Subulus Salam" serta Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan di dalam kitabnya juga yang berjudul "Minhatul ‘Allam". Sedangkan pendapat "Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin" menyatakan bahwasanya jika seandainya pada akhir waktu malam hari pun ternyata masih boleh dipergunakan buat melafadzkan niat dihati, asalkan dilakukan sebelum masuk waktu fajar atau sebelum masuk Azan Subuh. Adapun dalam Islam pergantian hari dalam malamnnya dimulai ketika memasuki waktu ibadah sholat Maghrib.

Dan sebagai pertanda seseorang telah dikatakan sudah dianggap berniat puasa secara syar'i ialah dirinya bangun dari tidurnya lalu menyantap sahur maka secara otomatis sudah terlintas dalam hatinya akan berpuasa. Begitu juga apabila seseorang itu sudah melakukan sebuah persiapkan untuk bersantap sahur, walau pada akhirnya kesiangan bangun pada waktunya, maka hal demikian sudah bisa dikatakan telah berniat untuk shaum wajib (puasa).

4). Niat dalam berpuasa wajib ini haruslah dihadirkan berulang kali di setiap waktu malam sebab ibadah puasa wajib (Shaum Romadhon) memiliki posisi yang tunggal setiap satu harinya. Hal ini senada juga dengan pendapat tiga Ulama besar mulai dari Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah. Adapun dalil yang mereka gunakan ialah hadits Nabi yang sudah dari awal saya sampaikan diparagrap ke enam pada artikel ini. Sehingga apabila ada orang yang tidur sesudah waktu ‘Ashar lalu tanpa disadari baru terbangun sesudah terbitnya waktu fajar atau waktu sholat subuh dihari esoknya, maka ibadah puasanya tersebut tidaklah dianggap sah secara hukum syar'i (Hukum Syariat Islam) sebab dirinya tidak berniat ketika malam sebelum subuh.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel