Pengertian I'tikaf Dan Cara Mengerjakannya Di Bulan Ramadhan

I'tikaf ialah sebuah langkah terbaik untuk memperoleh malam seribu bulan malam penuh kemulian yakni yang disebut "Lailatul Qodar". Dimana dalam malah tersebut turunnya jutaan lebih malaikat yang memenuhi isi bumi dan langit serta dilimpahkannya keberkahan, ampunan, dan rahmat. Siapa saja yang mendapatkannya maka dia akan mendapat pahala ibadah seribu bulan lamanya. Nah, kita balik lagi ke Tujuan daripada 'itikaf ialah fokus dalam beribadah untuk menggapai rahmat sekaligus ampunan dari Allah Ta'ala di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.  Rahmat ampunan tersebut terakumulasi dalam pahala Lailatul Qodar tadi.

Ibadah Itikaf Pada 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Sedangkan secara bahasa pengertian I'TIKAF itu berarti diam menetap di suatu tempat (Masjid), menghalangi gerak diri untuk tidak pergi kemana-mana, atau bisa juga mengurung aktivitas diri yang bersifat dunia. Namun secara hukum syar’i (Syariat Islam) atau kaidah maknawi yang hakiki, i’tikaf ialah menetap diam dalam masjid dengan cara pelaksaan yang telah ditentukan dan khusus yang pastinya disertai niat dalam hati untuk mefokuskan ibadah berupa shalat wajib dan sunnah, berdzikir, membaca kitab suci Al-Qur’an, baca buku-buku Islam, dengar ceramah lewat radio dakwah semisal radio Tarbiyah Sunnah Bandung dan Radio Rodja dll. Tapi ingat aktivitas yang mengeluarkan suara cukup lirih saja hanya diri sendiri yang dengar jangan sampai mengganggu orang atau jangan sampai saling mengganggu satu sama lain dengan berlomba mengeraskan suara, ini tidak bagus dan Nabi pun melarangnya.

Tujuan dari I'tikaf

Orang islam yang mengerjkan i'tikaf dinamakan Mutakif. Dan I'tikaf ini bertujuan yang paling utamanya untuk mendapatkan pahala seribu bulan yakni "Lailatul Qodar" tersebut dengan cara fokus berkegiatan ibadah dengan hati ikhlas hanya mengharap ridho Allah Ta'ala dan sementara menjauhkan kita dari segala macam yang berbau duniawi.

"Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan." (HR. Bukhari & Muslim)

"Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Hukum Dari I'tikaf

Hukum I’tikaf sendiri adalah sunnah, bukanlah fardhu (wajib), terkecuali pabila ada seseorang yang mewajibkan terhadap dirinya sendiri dengan bernadzar atau berjanji akan melakukan i’tikaf jika ada hajatnya yang tercapai. Namun nadzar ini apapun alasannya para Ualam tidaklah menganjurkan untuk melakukannya. jika kita memperoleh suatu nikmat jauh lebih baik dengan cara bersyukur lewat sedekah ketimbang nadzar.

Syarat sahnya i’tikaf ialah menganut agama Islam baik Muslim maupun Muslimah tetapi yan sudah baligh atau sudah dewasa serta berakal sehat (tidak diperbolehkan anak yang masih kecil dan belum usia baligh plus belum berakal menjalankan i’tikaf), berniatlah akan i’tikaf dalam hati, suci tubuh dari najis dan junub, PMS atau haid, pun juga nifas (Melakukan I’tikaf tidak berwudhu tidak mengapa tapi sangat dianjurkan sekali dalam kondisi sudah berwudhu), dan pastinya dikerjakan dalam sebuah masjid karema i'tikaf ini tidak bisa diluar selain masjid.

Dalil/Dasar Hukum I'tikaf

 كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمً
"Nabi Saw  biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”. [HR. Bukhari]

Waktu pelaksaan ibadah i’tikaf di masjid yang paling afdhol ialah pada akhir-akhir bulan ramadhan yaitu di 10 hari yang terakhir.

 أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Sesungguhnya Nabi Saw beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” [HR Bukhari & Muslim]

Nabi Muhammad Shallahu'alaihiwassalam mulai beri’tikaf dalam masjid pada 10 harian yang terakhir di bulan suci Ramadhan yang bertujuan utama guna memperoleh malam kemuliaan yakni malam "Lailatul Qadar", menjauhkan diri dari kesibukan segala hal tentang dunia, memfokuskan diri untuk beribadah secara total,  bermunajat, memperbanyak do’a permohonan dan do'a minta ampunan, dan juga memperbanyak berdzikir.

Waktu Pelaksanaan I'tikaf

Imam Al-Bukhari sengaja membuat pembahasan khusus dalam kitabnya yang diberi judul yakni “Bab anjuran beri’tikaf disepuluh hari yang terakhir serta bolehnya i’tikaf disemua masjid“. (Shahih Al-Bukhari).

Dianjurkan sekali untuk sudah memulai pergi beri’tikaf pada malam di tgl.21 bulan Ramadhan sesudah waktu Magrib. Karena waktu Magrib ini ialah awal dri permulaan bergantinya hari di dalam mekanisme sistem penanggalan kalender Islam tahun Hijriyah.

Lamanya Waktu I'tikaf

Menurut pendapat jumhur (Mayoritas) para ulama, dimana telah disebutkan di dalam kitab "Shahih Fiqih Sunnah", tidak adanya batasan dari segi waktu yang khusus ketika i’tikaf. Mendandakan, i'tikaf ini boleh dikerjakan hanya sesaat saja pada waktu malam maupun siang.

Menurut pendapat "Imam Al-Mardawi", “Waktu batas minimal disebuat i’tikaf baik i’tikaf sunnah maupun i’tikaf mutlak ialaj selama kita berdiam diri dalam masjid meskipun hanyalah sesaat."
 
Rukun Sah I'tikaf

  • Berniat (Niat tempatnya dihati).
  • Dilakukan dalam masjid (tidak boleh diluar selain masjid), baik itu masjid yang besar (Masjid Agung) maupun sebuah masjid yang kecil semisal contoh mushola.
  • Menetap tinggal dalam masjid.

Pembatal Dari Ibadah I'tikaf

  • Berubungan secara biologis dan juga segala yang menghantarkannya.
  • Keluar meninggalkan masjid dengan tanpa suatu kebutuhan penting.
  • Haid & nifas.
  • Gila (Hilang Akal) atau karena mabuk miras.

Selama dalam menjalankan i'tikaf tersebut, seseorang masih bisa diperbolehkan untuk  keluar meninggalkan masjid apbila ada sebuah kebutuhan yang mendesak, semisal makan dan minum, buang air kecil maupun besar, dan semua perihal lainnya yang sama sekali tidak memungkinkan untuk dikerjakan di area masjid.

Demikianlah panduan ringkas dan praktis beribadah i'tikaf, berikut Pengertian I'tikaf Dan Cara Mengerjakannya Di Bulan Ramadhan, tentunya berdasarkan dari apa yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu'alaihiwassalam. Sumber referensi : "Fiqih Sunnah dan Shahihain". Semoga kita semua dapat mengoptimalkan sisa ramadhan tahun ini yang sudah memasuki 10 hari terakhir dengan menjalankan sunnah Nabi berupa 'Itikaf.
Advertisement

0 Response to "Pengertian I'tikaf Dan Cara Mengerjakannya Di Bulan Ramadhan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel