Syarat Rukun sahnya Puasa Di Bulan Suci Ramadhan

KangSodik.Com - Ibadah PUASA bulan Ramadhan ini merupakan termasuk salah satu "Rukun Islam" poin yang ke empat, sesudah membaca syahadat, melaksanakan shalat fardhu,  dan membayar zakat serta sebelum berkemampuan pergi haji. Beribadah Puasa shaum Ramadhan pun hukumnya ialah wajib dilaksanakan oleh Kaum Muslimin (Umat Islam), sebagaimana juga wajibnya hukum shalat, bayar zakat, serta naik haji buat yang telah baligh plus mampu dari segi harta dan juga kesehatan diri.

Rukun Sahnya Bulan Suci Ramadhan

Adapun ketentuan Syarat Rukun Perintah Puasa Di Bulan Suci Ramadhan telah diperintahkan langsung Allah Subhana Wata'ala dalam Qur'an Al-Baqarah ayat 185 yang artinya sebagai berikut :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185).

Tafsir Ibnu Katsir Ayat QS 2 : 185 Mengenai Puasa Shaum Bula Suci Ramadhan

{ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَ انُ } “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan, (permulaan) al-Qur’an”, yaitu puasa yang diwajibkan atas kalian adalah bulan Ramadhan yaitu bulan yang agung, bulan di mana kalian memperoleh di dalamnya kemuliaan yang besar dari Allah Ta’ala, yaitu al-Qur’an al-Karim yang mengandung petunjuk bagi kemaslahatan kalian, baik untuk agama maupun dunia kalian, dan sebagai penjelas kebenaran dengan sejelas-jelasnya, sebagai pembeda antara yang benar dan yang batil, petunjuk dan kesesatan, orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang sengsara, maka patutlah keutamaan ini bagi bulan tersebut, dan hal ini adalah merupakan kebajikan Allah terhadap kalian, dengan menjadikan bulan ini sebagai suatu musim bagi hamba yang diwajibkan padanya berpuasa.

Lalu ketika Allah menetapkan hal itu, menjelaskan keutamaannya dan hikmah Allah Ta’ala dalam pengkhususannya itu, Dia berfirman, { فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ } “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” ini merupakan keharusan berpuasa atas orang yang mampu, sehat lagi hadir, dan ketika nasakh itu memberikan pilihan antara berpuasa dan tebusan (khususnya), ia mengulangi kembali keringanan bagi orang sakit dan musafir agar tidak diduga bahwa keringanan tersebut juga dinasakh, Allah berfirman, [يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ] “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” maksudnya, Allah Ta’ala menghendaki hal yang memudahkan bagi kalian jalan yang menyampaikan kalian kepada ridhaNya dengan kemudahan yang paling mudah dan meringankannya dengan keringanan yang paling ringan.

Oleh karena itu, segala perkara yang diperintahkan oleh Allah atas hamba-hambaNya pada dasarnya adalah sangat mudah sekali, namun bila terjadi suatu rintangan yang menimbulkan kesulitan, maka Allah akan memudahkannya dengan kemudahan lain, yaitu dengan menggugurkannya atau menguranginya dengan segala bentuk pengurangan, dan hal ini adalah suatu hal yang tidak mungkin dibahas perinciannya, karena perinciannya adalah merupakan keseluruhan syariat dan termasuk di dalamnya segala macam keringanan-keringanan dan pengurangan-pengurangan.

{ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ } “Dan hendaknya kamu mencukupkan bilangannya” ayat ini wallahu ‘alam agar orang tidak berfikir bahwa puasa itu dapat dilakukan hanya dengan separuh bulan saja, Allah menolak pemikiran seperti itu dengan memerintahkan untuk menyempurnakan bilangannya, kemudian bersyukur kepada Allah saat telah sempurna segala bimbingan, kemudahan dan penjelasanNya kepada hamba-hambaNya, dan dengan bertakbir ketika berlalunya perkara tersebut, dan termasuk di dalam hal ini adalah bertakbir ketika melihat hilal bulan Syawwal hingga selesainya khutbah ‘id.

Keutamaan Bulan Suci Ramadhan

Keutamaan dari bulan suci Ramadhan, yakni dimana Allah Subhanahu Wata'ala telah mewajibkan bagi seluruh hambaNya yang beriman dibulan ini untuk melaksanakan ibadah puasa (Shaum), dan keutaman-keutamaan bulan suci ramadhan pun telah termaktub dalam hadits (Ucapan Nabi Yang Berdasarkan Wahyu) Nabi Shallallahu'alaihiwassalam guna menjelaskan lebih jelas dan rinci:

“Apabila telah tiba bulan Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Muslim).

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa melakukan Shalat (tarawih) pada bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu).” (HR. Bukhari).

Bagi orang Sakit parah dan sedang Musafir tidak diwajibkan puasa ramadhan

Terdapat keringanan (Rukhshah) bagi yang tidak menjalakan puasa ramadhan buat mereka orang-orang yang termasuk kategori dibawah berikut:
  • Sakit parah. siapa saja yang ketika memasuki bulan ramadhan justru Allah uji dengan sakit baik itu ringan apalagi sakitnya parah yang dikhawatirkan akan membuat makin lama sekali kesembuhannya atau  lebih parah lagi sakitnya.
  • Musafir (Orang yang bepergian jauh). Bagi seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh antar kota maupun antar negara yang pastinya menguras banyak tenaga diperbolehkan buka dan tidak puasa pada waktu itu, akan tetapi wajib mengqodhonya dilain hari diluar ramadhan sejumlah puasa yang ditinggalkan karena keadaan Musafir tersebut, dan dibolehkan juga baginya ketika musafir itu mengqashar ibadah shalat wajib.
  • Para manula atau Lansia yakni orang-orang baik laki-laki dan perempuan yang berusia lanjut dan kondisi fisiknya Lemah sekali, Juga bagi orang yang Sakit parah yang sama sekali tidak  ada indikasi akan sembuh. Namun kedua keadaan tersebut cukup diganti dengan membayar fidyah dan tidak usah qodho shaum.
  • Wanita yang sedang Hamil maupun Wanita yang Menyusui, kedua keadaan ini jika diwaktu lain sudah longgar maka harus mengqodhonya.
“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad)

Wajibnya untuk mengqadha’ puasa terhadap siapa saja Umat Islam yang meninggalkan ibadah puasa romadhon dikarenakan udzur syar'i yakni keringatan yang dibolehkan dalam hukum syari’at islam, dihari-hari dan bulan lain selain ramadhan.

Betapa mudahnya pengamalan syariat dalam Islam ini, dengan meniadakan sebuah kesulitan maupun kesempitan karena keadaan yang diperbolehkan. Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam pun telah menegaskan di dalam keterangan hadits sabdanya yakni, “Agama Allah ini mudah”, dan sabda Nabi yang lainnya di dalam sebuah kitab hadits paling masyur "Shahih Bukhari", bunyinya “Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari”. Silahkan cek algi dalam kitab hatits yang telah saya sebutkan tadi.

Syarat dan sahnya Puasa: orang Wajib menjalankan puasa shaum Ramadhan

Orang-orang Yang terkena kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan ialah setiap orang Islam laki dan wanita,  telah berumur baligh, memiliki akal, sehat jasmaninya, bermukim ditempat tinggalnya (bukan seorang musafir), dan juga perempuan yang telah suci akan haidh serta nifas.

Syarat dan Sahnya ibadah puasa ramadhan ada 2 :
  1. Dalam kondisi suci akan haidh pun nifas. Syarat yang satu ini ialah syarat yang terkena adanya kewajiban untuk berpuasa sekaligus menjadi syarat dan sahnya berpuasa romadhon itu sendiri.
  2. Berniat Untuk Berpuasa Romadhon. Niat juga merupakan sebuah syarat sahnya dalam menjalankan puasa romadhon sebab puasa romadhon ialah ibadah yang hukumnya wajib sedangkan namannya ibadah akan menjadi tidak sah terkecuali dengan disertai niat dalam hati sebagaimana amalan ibadah wajib yang lainnya.
 “Tidak menjadi sah puasanya seseorang terkecuali dengan disertai niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan diantara para a'lim ulama.”

“Niat letaknya dalam hati dan tidak perlu sama sekali dilafazhkan. Dan niat itu samasekali tidaklah disyaratkan mesti dilafazhkan yang sebagaimana telah ditegaskan An-Nawawi di dalam kitabnyaAr-Roudhoh.”

“Niat tersebut terletak dihati yang berdasarkan ijma' kesepakatan para ulama. Bila seseorang telah berniat dihatinya tanpa harus dilafazhkan dengan ucapan lisannya, dengan begitu maka secara otomatis niatnya itu telah dianggap sudah sah, hal ini pun dikuatkan dengan kesepakatan dari para a'lim ulama.”

Rukun Shaum Puasa Bulan Ramadhan

Berdasarkan melalui kesepakatan ijma' para a'alim ulama, rukun shaum puasa ialah menahan dirinya dari bermacam hal pembatal shaum puasa ramadhan dimulainya terbit sanga fajar yakni fajar shodiq sampai terbenamnya mentari maupun sejak permulaan waktu ketika sudah memasuki subuh sampai awal Magrib.

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Adapaun Yang dimaksudkan dari isi ayat tersebut ialah, terangnya waktu siang hari dan waktu gelapnya saat malam dan bukanlah yang jadi maksud akan ayat diatas benang fisik secara sebenarnya (hakiki).

Dari sahabat Nabi yang bernama ‘Adi bin Hatim disaat turunnya surah Al-Baqarah tepat ayat ke 187, disitu Nabi Muhammad shallallahu‘alaihiwasallam berucap padanya,

إِنَّمَا ذَاكَ بَيَاضُ النَّهَارِ مِنْ سَوَادِ اللَّيْلِ
“Yang dimaksudkan ialah terangnya waktu siang hari dari waktu gelapnya ketia malam tiba”[24]. Nabi Muhammad Shallallahu‘alaihiwasallam mengucapkan seperti demikian pada sahabatnya ‘Adi bin Hatim dikarenakan sebelumnya dirinya mengambil kedua benang yang berwarna hitam juga yang berwarna putih. Kemudian dengan polosnya ia menunggu kapan akan munculnya benang warna putih itu dari satu benang warna hitam yang baru, namun setelah lama menanti samasekali tidak juga kunjung terlihat. Lantas dirinya menceritakan perihal tersebut kepada Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu'alaihiwassalam yang kemudian spontan beliau yakni Nabi kita pun menertawai tingkah laku ‘Adi bin Hatim tersebut.

HAL-HAL YANG BISA MEMBATALKAN IBADAH PUASA RAMADHAN

Sekurangnya terdapat empat perkara yang bisa Membatalkan ibadah Puasa ramadhan kita diantaranya ialah:

1. Makan serta minum secara sengaja

Makan maupun minum ketika berpuasa secara sengaja dapat membatalkan amal ibadah shaum (puasa) ramadhan. Akan tetapi, apabila ada oramg yang makan maupun minum ketika puasa ramadhan karena lupa tidak menyadari sedang puasa, maka hal demikian tidaklah batal ibadah puasanya.

.فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ ,فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ,مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَآَلَ أَوْ شَرِبَ
“Barangsiapa yang lupa bahwasanya dia sedang berpuasa, lalu dia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya.” (HR Abu Hurairah)

2. Muntah secara sengaja

Jika ada seseorang dari kaum muslimin yang secara sengaja dirinya memuntahkan apapun dari isi perutnya, maka ibadah puasanya itu otomatis batal dengan sendirinya dan tidak lagi sah menurut hukum syariat Islam. Tetapi jikalau muntahnya tersebut terjadi tanpa disengaja, maka hal demikian tidaklah membatalkan puasanya.

.مَنْ ذَرَعَهُ القَيءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِِ
“Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja, maka dia tidak wajib mengqadha’ puasa, sedangkan barangsiapa yang sengaja muntah, maka wajib baginya mengqadha’.”

3. Haid & Nifas

JikaSeorang perempuan yang sedang haid maupun nifas maka tidaklah diperbolehkan menjalankan puasa ramadhan selama dalam masa masih terkena haid maupun nifasnya tersebut dan dia wajib untuk menggantinya atau dalam bahasa syariat wajib mengqadha shaumnya (puasa) tersebut dilain hari sesudah bulan suci ramadhan berlalu.

4. Malakukan Hubungan Suami Istri Di Siang hari Ramadhan

Persetubuhan atau melakukan aktivitas hubungan pasutri (Pasang Suami Istri) pada siang harinya bukanlah saja itu membatalkan dari puasanya, namun juga meninmbulkan konsekuensi berupa "denda" yang lumayan berat. Jima' ketika berpuasa ramadhan jelas hukumnya itu haram. Si pelakunya itu wajib untuk membayarkan kifarat berupa berpuasa lagi namun lebih berat sekitar 2 bulan penuh berturut-turut dibulan lain, atau memerdekakan seorang budak hambasahaya, atau jika kedua hal tadi tidak mampu maka harus memberikan santapan makan yang layak kepada 60 kaum dhu'afa (Orang Miskin) sebagaimana termaktub dalam hadits Nabi rasulullah Shallallahu'alaihiwassalam berikut dibawha ini:

“Di saat kami sedang duduk bersama Nabi Shallallahu'alaihiwassalam, datanglah seorang laki-laki seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah Shallallahu'alaihiwassalam binasalah aku.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang telah membinasakan dirimu?’ Dia menjawab, ‘Aku telah berhubungan badan dengan isteriku sedangkan aku dalam keadaan berpuasa Ramadhan.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?’ ‘Tidak,’ jawabnya. Lalu beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’

Beliau bertanya lagi, ‘Dan apakah engkau mampu memberi makan kepada 60 orang miskin?’ Dia pun menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihiwassalam diam, dan di saat kami sedang dalam keadaan seperti itu, Rasulullah Shallallahu'alaihiwassalam diberi sekeranjang kurma, lalu beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tadi?’ Orang itu pun menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!’

Laki-laki itu berkata, ‘Adakah orang yang lebih miskin dari pada kami wahai Rasulullah? Demi Allah tidak ada satu keluarga di antara dua tempat yang banyak batu hitamnya di Madinah yang lebih faqir dari pada kami.’ Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwassalam tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau berkata, ‘Berilah makan keluargamu dari sedekah itu.’”

Demikian Syarat Rukun sahnya Puasa Di Bulan Suci Ramadhan. (Sumber: Fiqhus Sunnah, Shahihain, Ensiklopedi Islam).

Baca juga: 7 Fadhilah Keutamaan Bulan Ramadhan Yang Wajib Anda Tahu

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel